SUMBER: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0203/28/iptek/tekn37.htm

 

KETIKA orang-orang Cina pertama kali menemukan teknik percetakan pada abad ke-14,

mungkin ketika itu tidak terbayangkan kalau perkembangan teknik percetakan dewasa

ini akan maju sangat pesat melebihi bayangan yang ada pertama kali ketika

menemukan percetakan itu sendiri. Percetakan sendiri mungkin merupakan penemuan

yang paling penting pada milenium lalu, walaupun sebenarnya dampak yang

ditimbulkannya pada perekonomian global tidak terlalu besar.Sebaliknya, perkembangan

jaringan Internet sendiri mungkin tidak memiliki signifikansi yang sama dibanding

dengan teknologi pencetakan (bandingkan misalnya dengan ditemukan percetakan

bergerak yang ditemukan oleh Johann Gutenberg pada tahun 1450 yang memungkinkan

Alkitab menjadi buku pertama yang diporduksi secara massal-Red), atau dampak yang

juga signifikan dibanding dengan ditemukannya telegraf dan listrik. Tetapi, jaringan

Internet memiliki dampak ekonomi yang sangat luas. Salah satu alasannya adalah

karena semakin menurunnya secara tajam biaya komunikasi dibanding teknologi

sebelumnya, memungkinkan penggunaan secara meluas dan mendalam melalui

berbagai liku-liku perekonomian nasional dan global.

 

Kenyataan ini mengisyaratkan kepada kita kalau sebuah penemuan yang tetap mahal,

seperti yang terjadi pada penemuan telegraf elektronik, akan memiliki dampak yang

sangat berkurang terhadap perekonomian maupun pada tingkatan penggunaan secara

individual. Dewasa ini, berbagai bentuk pengurangan komunikasi, baik itu secara

tertulis, oral, maupun visual, yang secara cepat berubah menjadi sebuah rangkaian

bilangan angka 1 (baca satu) dan 0 (baca nol), memiliki kekuatan untuk mendorong

sebuah dunia yang penuh dengan pengetahuan (knowledge) yang sama radikalnya,

setidaknya, dengan apa yang dilakukan oleh Gutenberg ketika menemukan teknik

percetakan bergerak.

 

Namun demikian, berbeda dengan teknologi Gutenberg yang secara perlahan mulai

terlihat meredup, revolusi teknologi komunikasi informasi yang sekarang ini mewabah di

seluruh dunia, menghasilkan sebuah dunia baru yang instan dan berpotensi tidak

terkontrol dalam komunikasi satu-per satu individu. Persoalan ini pun akhirnya

menimbulkan berbagai pertanyaan yang langsung ke akar berbagai pemikiran, para

orang pintar dan bijak di berbagai negeri mulai mempertanyakan siapa yang memiliki

informasi?

Masyarakat spasial mulai tergantikan dan berada pada posisi relokasi oleh munculnya

sebuah masyarakat semu (virtual).

 

Sebuah tata ekonomi internasional baru mulai menata diri di sekitar apa yang disebut

sebagai cyberspace dan menantang secara langsung otonomi negara-bangsa. Kalau kita

kembali dan melihat ke belakang sejarah dunia, misalnya, dampak teknologi komunikasi

terhadap pelaksanaan pengembangan kekuasaan sejak penemuan teknologi pencetakan,

secara konsisten menunjukkan adanya tantangan langsung terhadap para pemimpin di

negara-negara Barat untuk mengubah kebiasaan mereka. Sama halnya seperti ketika

berbagai teknologi ditemukan, selalu menghasilkan perubahan dalam stratgei dan taktik

peperangan.

 

Referensi yang paling cocok kembali lagi pada penemuan teknologi pencetakan oleh

Johann Gutenberg pada abad ke-15. Percetakan secara mekanikal ketika itu, “dikutuk”

sebagai “pengacau” terhadap kekuasaan dan para penguasa alami ketika itu.

Ditemukannya teknologi percetakan, jelas telah membantu Martin Luther untuk langsung

menantang kekuasaan Gereja Katolik, dan tentunya juga kegagalan kepemimpinan Paus

Leo X. Memang betul, pekerjaan Luther akan menjadi lebih sulit walaupun ada

percetakan sekali pun, kalau seandainya bukan karena tindakan seorang paus serakah

yang menjual kemewahan dan menjarah harta Vatikan.

Nirkertas

Dalam konteks dan kecenderungan seperti yang diuraikan, kita mencoba memahami

bagaimana perkembangan teknologi percetakan yang sekarang ini sangat dipengaruhi

oleh pertumbuhan revolusioner jaringan Internet dan digitalisasi di bidang informasi dan

komunikasi dengan munculnya berbagai jenis printer di pasaran.

Kalau mengikuti logika perkembangan dan pertumbuhan ekonomi baru dengan teknologi

komunikasi informasi sebagai penggerak utamanya, kita pun akan mengira kalau sebuah

dunia nirkertas (paperless) akan menjadi sebuah kenyataan di tengah gegap gempitanya

digitalisasi. Tetapi, dan ini yang aneh, ini tidak terjadi. Tidak ada apa yang namanya

dunia nirkertas, dan bahkan kecenderungan yang muncul adalah digitalisasi

menghasilkan lebih banyak kertas dan lebih banyak tinta.

 

Ketika Kompas berada di kantor Hewlett Packard Indonesia di kompleks pertokoan Plaza

Senayan beberapa saat lalu dan melihat sebuah printer Deskjet 1220C (Kompas sendiri

tidak memiliki kesempatan untuk mencoba produk ini karena terjadi product defect

ketika pertama kali mengeluarkannya dari boks Deskjet 1220C) yang bisa dicetak di atas

kertas ukuran A3 (ukuran 29,7 cm x 42 cm) dan menanyakan apa kegunaannya jenis

printer seperti ini, salah satu salesman Hewlett Packard dengan seenaknya memberikan

jawaban, “Untuk proofing warna dan color matching.”

Menurut Kompas ini adalah jawaban yang aneh. Ketika diteruskan dengan pernyataan

adanya jaringan Internet dan komputerisasi di berbagai perusahaan (di biro iklan

maupun percetakan, misalnya), sehingga sebenarnya tingkatan pekerjaan untuk

menyesuaikan warna dan mata rantai cetak mencetak bisa selesai dengan digitalisasi,

sang salesman Hewlett Packard ini pun masih dengan seenaknya memberikan jawaban

bahwa komposisi warna pada perangkat komputer PC ada yang RGB dan CMYK,

sehingga diperlukan printer agar tidak terjadi perbedaan warna yang diinginkan,

misalnya, kalau biro iklan ingin memasukkan iklan berwarna di Harian Kompas.

Jawaban sang salesman Hewlett Packard ini menjadi sulit untuk diterima akal kalau kita

mengikuti paradigma digitalisasi dan perkembangan pesat jaringan Internet. Paradigma

ini mengisyaratkan bahwa adanya dimensi ruang dan waktu yang bisa dipangkas dan

menyederhanakan pekerjaan secara menyeluruh, sekaligus dari sisi ekonomi terciptanya

penghematan. Mengenai komposisi warna pada komputer PC antara RGB dan CMYK

yang berbeda-beda, jelas terjadi karena memang yang tidak dipikirkan penjaja printer

Hewlett Packard tadi adalah persoalan kalibrasi monitor komputer PC pada masingmasing

client harus dilakukan.

 

Dengan kalibrasi ini, maka warna biru 88 persen, merah 91 persen, maupun hijau 66

persen yang diinginkan oleh biro iklan ketika akan memasang iklan di media cetak yang

dikirim melalui file digital dengan memanfaatkan jaringan Internet atau jaringan kerja

metropolitan berkecepatan tinggi, akan diterima sesuai dengan permintaan pemesan

pemasangan iklan di bagian percetakan media tersebut. Ini adalah esensi paling penting

dari dunia digitalisasi dan inter-koneksi yang sekarang terus berkembang. Melalui

kalibrasi, warna-warna tersebut akan tetap dibaca dan diterima sebagai biru 88 persen,

merah 91 persen, dan hijau 66 persen, dan tidak mungkin berubah-ubah tidak menentu.

Persaingan harga

Namun demikian, terlepas dari persoalan kalibrasi atau tidak, tulisan ini sendiri mencoba

untuk melihat dan memahami ke mana sebenarnya kecenderungan dan arah yang ingin

ditempuh printer-printer yang tersebar luas di pasaran sekarang ini. Untuk jenis printer

laser mungkin perkembangan yang ada sekarang ini lebih mengarah pada persaingan

harga, ketimbang teknologi yang bisa dikembangkan lebih jauh di luar kualitas cetakan

dan kecepatan mencetak.

Ambil saja beberapa printer laser buatan Canon, Epson, dan Hewlett Packard yang

semuanya dijual dengan harga yang berkisar antara 275 dollar AS sampai 365 dollar AS.

Secara teknologi, printer laser LBP-1000 buatan Canon, EPL-5800L buatan Epson,

maupun LaserJet 1000 buatan Hewlett Packard

semuanya memiliki teknologi yang sepadan dengan kecepatan mencetak rata-rata di

bawah 30 detik dengan resolusi teks antara 300-1200 dpi (dot per inch). Pada kasus

Canon LBP-1000 memang terjadi pencetakan dengan waktu yang lebih lama karena

koneksi yang disediakan antara komputer PC dilakukan melalui sambungan paralel.

Ketika menguji kecepatan mencetak 21 halaman tulisan ini menggunakan komputer PC

pada prosesor Pentium 4 2,2GHz, Canon LBP-1000 memerlukan waktu yang lebih lama

pada kualitas 1.200 dpi, yaitu 02:34:989. Sedangkan pada kualitas 600 dpi, waktu yang

diperlukan untuk menyelesaikan dokumen yang sama lebih cepat yaitu 02:15:780.

Sedangkan pada printer Epson EPL-5800L, dokumen 21 halaman dicetak pada dua jenis

kualitas yang berbeda (600 dpi dan 300 dpi) masing-masing menyesaikannya dengan

selisih yang tidak begitu jauh, secara berturut-turut 02:21:156 dan 02:20:123. Dan

pada printer LaserJet 1000 buatan HP pada kualitas pencetakan 600 dpi dibutuhkan

waktu 02:10:426.

 

Memang pada pencetakan teks, kecepatan 10 ppm (page per minute) merupakan hasil

maksimum yang bisa dicapai printer laser yang ditujukan untuk konsumen tingkat lowend

maupun bagi perusahaan skala kecil dan menengah. Dan akhirnya, harga memang

akan sangat menentukan (pada ketiga kelas ini, printer Epson EPL-5800L dijual di

pasaran sekitar 275 dollar AS, sedangkan printer sejenis buatan Canon dan Hewlett

Packard dijual dengan harga di atas 300 dollar AS).

Tidak berubah

Printer dengan teknologi laser tampaknya memang akan terhenti sejenak karena di luar

kecepatan dan kualitas dpi, para produsennya mungkin tidak berminat untuk

mengembangkan lebih jauh misalnya untuk memperbaiki kualitas cetakan setara dengan

teknologi ink-jet yang sekarang menjadi sebuah kecenderungan pesat dengan semakin

terintegrasinya multimedia dalam berbagai bentuk. Jadi, pada akhirnya yang terjadi

adalah persaingan pada perusahaan printer laser mana yang bisa menghemat biaya

berbagai komponennya untuk menyediakan printer jenis ini ke konsumen.

Cetak mencetak memang belum menjelang ajal dan menjadi industri “sunset” dibanding

misalnya industri lain seperti fotografi atau film seluloid yang biasa digunakan pada

kamera 35 mm. Bagaimanapun juga, berbagai dokumen yang berkaitan dengan masalah

hukum, seperti kontrak, perjanjian kerja, dan sejenisnya, masih tetap akan menjadi

pegangan semua pihak dalam menjalankan usahanya yang terkait dengan pihak-pihak

lain.

 

Alasan lainnya, memegang kertas untuk masih tetap lebih nyaman dibanding membaca

dari layar monitor. Pada alasan ini

terkiat persoalan portabilitas, kenyamanan, dan kebiasaan yang memang sulit untuk

dicarikan penggantinya. Mungkin perlu juga dilakukan skala penggunaan dan kebiasaan,

apakah di antara 10 orang yang memiliki PDA (Personal Digital Assistant) yang sekarang

merupakan fenomena penting dalam perjalanan digitalisasi dan multimedia, ada di atas

lima orang yang membaca di atas PDA-nya.

Sekarang ini menjadi sulit untuk melihat kecenderungan cetak-mencetak di masa yang

akan datang, dan orang pun akan merasa puas dan cukup membaca dokumen tercetak

dengan kualitas 600 dpi. Jadi pada teknologi pencetakan jenis teks nantinya masih tidak

akan berubah banyak dibanding dengan yang ada sekarang di pasaran. Semakin banyak

printer laser yang ditawarkan di pasaran, semakin banyak kertas yang dibutuhkan untuk

mencetak berbagai keperluan yang tidak pernah akan selesai. (rene l pattiradjawane)

 

Industri Percetakan Lahir

Tanggal 25 Januari tahun 1456, industri percetakan lahir dengan dicetaknya Injil

Gutenberg atau dikenal dengan nama Mazarin Bible. Injil cetakan pertama ini bentuknya

seperti manuskrip, tidak memiliki nomer halaman, judul halaman, dan identitas buku

lainnya. Pencetakan Injil Gutenberg ini merupakan hasil dari penemuan mesin cetak

dengan huruf bergerak oleh Johann Gutenberg pada tahun 1450. Namun sesungguhnya,

penemuan mesin cetak pertama kali ditemukan oleh bangsa Cina pada tahun 594 yang

menggunakan metode penyekaan terhadap cetakan yang terbuat dari sebuah kayu.

Maksud

1. Perkembangan intelektual dalam bidang seni, sejarah, sains, sastera dan ilmu

undand-undang.

2. Dikenali sebagai pemulihan budaya dari zaman gelap ke zaman maju.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

1. Perkembangan universiti- meningkatkan perkembangan ilmu.

2. Politik Eropah aman dan stabil

3. penemuan teknik percetakan di Mainz, Jerman

4. Timbulnya minat untuk menghidupkan semula ilmu dalam tamadun Yunani dan Rom

dahulu

5. Perkembangan budaya Eropah dengan peradaban Islam Timur Tengah

6. Kenyakinan masyarakat terhadap diri sendiri menggunakan daya intelek dan cabaran

baru

7. Rakyat ingin bebasdari belenggu agama kristian dan kemerosotan ekonomi.

Pencapaian Renaissance

1. Lahir ramai ahli fikir, penulis, pelukis dan ahli muzik

2. perkembangan aktiviti bukan bersifat keagamaan contoh memuja keindahan

3. Bidangsains, sastera, sejarah dan ilmu pengatahuan mula berkembang

4. Pencapaian yang hebat- bidang kesenian,lukisan, seni arca dan seni bina

5. Lahir beberapa tokoh yangserba boleh seperti Michael Angelo dan Leornado da Vinci

6. Aliran pemikiran yang meletakkan manusia sebagai subjek dan menentukan dalam

hidupnya (humanisme)

Johannes Gensfleisch Gutenberg (l-k 1398-1468) ialah seorang pencipta Jerman yang

mencapai kemasyhuran dengan sumbangannya kepada teknologi percetakan pada

1440an.

Dilahirkan di Mainz, Jerman, beliau berasal daripada satu keluarga bangsawan dan

menerima latihan awal sebagai seorang tukang emas. Pada tahun 1428, disebabkan oleh

politik, beliau berpindah ke bandar Strasbourg dan tinggal di sana selama 20 tahun.

Gutenberg terkemuka sebagai orang yang membuat mesin cetak.

Nama penuhnya adalah Johanes Gensfleisch Gutenberg. Beliau dilahirkan di Mainz,

Germany pada 1397. Beliau berasal daripada satu keluarga bangsawan dan menerima

latihan awal sebagai seorang tukang emas. Pada tahun 1428, disebabkan oleh politik,

beliau berpindah ke bandar Strasbourg dan tinggal di sana selama 20 tahun. Di

Strasbourg, beliau menyarai hidupnya dengan membuat barangan logam. Gutenberg

menghasilkan hiasan kecil bercermin untuk dijual kepada pelawat ugama Kristian. Dia

kemudiannya pulang ke Mainz dan bekerja sebagai seorang tukang emas.

Idea Gutenberg yang terpenting tercetus ketika dia bekerja sebagai tukang emas di

Mainz. Dia mendapat buah fikiran untuk menghasilkan surat pengampunan dengan

membentuk cop huruf untuk mencetak surat pengampunan dengan banyak agar dia

boleh mendapat banyak wang untuk membayar hutang-hutangnya ketika dia bekerja

sebagai tukang logam dahulu. Pada masa itu buku dan surat ditulis dengan tulisan skrip

gotik dengan tangan dan mengandungi banyak kesalahan ketika penyalinan serta

lambat.

 

Oleh itu, Gutenbert mula membuat acuan huruf logam dengan menggunakan timah

hitam untuk membentuk huruf skrip gotik. Pada permulaannya Gutenberg terpaksa

menghasilkan hampir 300 bentuk huruf untuk meniru bentuk tulisan tangan yang

bersambung-sambung. Setelah itu Gutenberg mereka mesin cetak yang bergerak untuk

mencetak. Mesin cetak bergerak inilah sumbangan terbesar Gutenberg. Setelah

menyempurnakan mesin cetak bergeraknya, Gutenberg mula mencetak beribu-ribu

surat pengampunan yang disalah gunakan oleh Gereja Katolik untuk mendapatkan

wang. Penyalah-gunaan ini merupakan punca timbulnya bantahan daripada

sesetengahpihak seperti Martin Luther.

Pada tahun 1452, Gutenberg mendapatkan pinjaman wang daripada Johann Fust untuk

memulakan projek pencetakan biblenya yang terkenal. Bagaimanapun Gutenberg telah

dipecat daripada menguruskan pencetakan Bibal itu sebelum ianya disiapkan

sepenuhnya disebabkan Gutenberg dituduh mencetak surat pengampunan, kalender dan

buku bacaan ringan sebagai aktiviti sampingan. Bagaimanapun Bible yang terhasil masih

dikenali sebagai Bible Gutenberg yang mengandungi 42 baris setiap muka disiapkan

pada 15 August 1456 dan dianggap sebagai buku bercetak tertua di dunia barat.

Dua ratus jilid salinan Bible Gutenberg telah cetak, sebahagian kecilnya (lebih kurang

50) dicetak di atas kulit lembu muda (velum). Bible Gutenberg yang cantik dan mahal

itu dijual pada harga setimpal dengan tiga tahun gaji seorang kerani biasa. Ia dijual di

Pameran Buku Franfurt pada tahun 1456. Secara kasar hampir 1/4 Bible Gutenberg

masih wujud sekarang.

 

Selain menjadi peneroka bidang percetakan, Gutenberg juga mencipta bahan sampingan

percetakan seperti dakwat dan cop huruf. Dakwat yang digunakan merupakan campuran

minyak, tembaga, dan timah hitam masih kekal warnanya. Ianya adalah berlainan

daripada dakwat tulisan biasa kerana dakwat percetakan adalah lebih pekat dan likat.

Gutenberg juga telah menyempurnakan campuran logam untuk membentuk cop huruf

dengan gabungan timah hitam, antimoni dan timah yang masih kekal digunakan

sehingga abad ke 20.

 

Gutenberg juga dipercayai mula bekerja untuk menyiapkan Ensiklopedia Catholicon of

Johannes de Janua, setebal 748 muka dengan 2 ruangan setiap muka dan 66 baris

setiap satu ruangan. Pada akhir hayatnya dia diterima sebagai pengiring (courtier)

kepada uskup besar Mainz. Pada tahun 1468 Gutenberg meninggal dan ditanam di

gereja Franciscan, Mainz

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s